Hadits (Hadis)

█▓▒░

HADIST (HADIS)

(Periodisasi dan Klasifikasi)

HADIS (Hadist) yang terhimpun dalam kitab hadis tidak begitu saja terkumpul sekaligus, tetapi mengalami periodisasi sejalan dengan periode pengumpulan, penyeleksian, dan penembangan ilmu hadis. Dalam mempelajari hadis ulama hadis mengklasifikasikannya dari dua segi, yaitu segi kuantitas (jumlah rawi) dan kualitas (nilai sanad).

PERIODE HADIS

13 SH/609 M-11 H/632 M.
Periode wahyu dan pembentukan hukum serta dasarnya. Pada masa ini hadis lebih banyak berupa hafalan dan ingatan para sahabat.

12 H/634 M-40 H/661 M.
Periode membatasi hadis dan menyedikitkan riwayat. Ini berlangsung pada masa al-Khulafa’ ar-Rasyidun.

40 H/661 M hingga akhir abad ke-1 H.
Periode penyebaran riwayat ke kota untuk mencari hadis, yaitu masa sahabat junior dan tabiin senior.

Awal sampai akhir abad ke-2 H.
Periode penulisan dan kodifikasi resmi. Periode ini berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99 H/717 M-102 H/720 M) sampai akhir abad ke-2 H.

Awal sampai akhir abad ke-3 H.
Periode pemurnian, penyeleksian, dan penyempurnaan.

Awal abad ke-4 H hingga jatuhnya Baghdad (656 H/12528 M).
Periode pemeliharaan, penertiban, penambahan, dan penghimpunan.

Awal jatuhnya Baghdad sampai sekarang.
Periode pensyaratan, penghimpunan pe-takhrij-an atau pengeluaran riwayat, dan pembahasan.

KLASIFIKASI HADIS BERDASARKAN KUANTITAS

  • Hadis Mutawatir : yang diriwayatkan oleh orang banyak pada semua tingkatan sanad, yang secara logis dan kebiasaan dapat dipastikan bahwa para rawi hadis itu mustahil bersekongkol untuk berdusta
    • Hadis Mutawatir lazi : yang lafalnya banyak dan sama
    • Hadis Mutawatir ma’nawi : yang lafalnya berbeda-beda tetapi semakna
    • Hadis Mutawatir ‘amali : perilaku yang sudah diamalkan orang banyak dan diyakini berdasarkan perintah Nabi Muhamma SAW
  • Hadis ahad : yang diriwayatkan orang per orang (ahad merupakan jamak dari ahad = satu) yang tidak mencapai tingkat mutawatir, dan dapat diriwayatkan oleh seorang atau lebih
    • Hadis masyhur : yang diriwayatkan paling tidak oleh tiga jalur rawi dan tidak kurang dari tiga, tetapi tidak sampai derajat mutawatir
    • Hadis ‘aziz : yang diriwayatkan melalui dua jalur rawi
    • Hadis garib : yang diriwayatkan melalui satu jalur rawi

KLASIFIKASI HADIS BERDASARKAN KUALITAS

  • Hadis maqbul : yang diterima
    • Hadis sahih : yang sah dan valid karena sanadnya tersambung; rawinya adil dan dabit (kuat hafalan); dan matannya tidak syazz (tidak mengandung kejanggalan) serta tidak ber-‘illah (sebab yang mencacatkan hadis)
      • Hadis sahih li zatih : “yang sahih dengan sendirinya” karena terpenuhinya syarat hadis sahih
      • Hadis sahih li gairih : “yang “sahih karena ada keterangan lain yang mendukungnya” atau kurang salah satu syarat dari hadis sahih, namun bisa ditutupi dengan cara lain
    • Hadis hasan : yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matannya tidak syazz dan ber-‘llah
      • Hadis hasan li zatih : yang hasan dengan sendirinya karena terpenuhinya syarat hadis hasan
      • Hasan li gairih : yang hasan karena ada keterangan lain yang mendukungnya atau dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal, namun ia bukan orang yang terlalu banyak membuat kesalahan
  • Hadis mardud atau da’if : yang ditolak atau hadis lemah yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan
    • Bersambung/tidaknya Sanad
      • Hadis mursal : yang diriwayatkan tabiin langsung dari Nabi Muhammad SAW
      • Hadis muqati’ : yang salah seorang rawinya gugur tidak pada sahabat, tetapi bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir
      • Hadis mu’dal : yang dua rawinya atau lebih hilang secara berurutan dalam sanad
      • Hadis mudallas : yang kelemahannya disebabkan oleh manipulasi perawi, baik pada sanad maupun matan
      • Hadis mu’allaq : yang tidak mempunyai sanad, sehingga terputus sama sekali
      • Hadis mu’allal : yang kelihatannya selamat, akan tetapi sebenarnya memiliki cacat, baik pada sanad maupun matannya
    • Tercelanya Rawi
      • Hadis maudu’ : yang disebabkan oleh kedustaan perawi
      • Hadis matruk : yang “ditinggalkan” karena perawinya suka dusta ata fisik dalam pembicaraan dan perbuatannya atau orang yang banyak salah dan keliru dalam meriwayatkan hadis
      • Hadis munkar : yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah isinya, bertentangan dengan riwayat dari perawi yang terpercaya
      • Hadis mudraj : yang di dalamnya ada sisipan perkataan sahabat atau tabiin
      • Hadis maqlub : yang terbalik matannya atau nama perawi pada sanadnya
      • Hadis mudtarib : yang diriwayatkan melalui cara yang berbeda antara hadis yang satu dan lainnya, padahal tidak mungkin untuk di-tarjih (dipilih mana yang paling kuat)
      • Hadis musahhaf : yang ada perubahan titik pada sanad dan huruf pada matan
      • Hadis muharraf : yang ada perubahan syakal (tanda baca)
      • Hadis mubhan : yang perawinya samar atau tidak jelas
      • Hadis majhul : yang perawinya tidak dikenal, walaupun namanya ada tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang rawi
      • Hadis mastur : yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak diketahui kejujurannya
      • Hadis syazz : yang diriwayatkan oleh seorang yang terpercaya, namun bertentangan dengan hadis dari orang yang lebih terpercaya
      • Hadis mukhtalit : yang diriwayatkan oleh perawi yang sudah rusak hafalan atau catatannya

Sumber :

Iklan

║║║║║

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s